TEMPO.CO, Jakarta – Ransomware masih menjadi salah satu ancaman yang menakutkan bagi masyarakat. Khususnya buat para profesional IT pada organisasi pemerintahan maupun swasta yang dalam operasionalnya melakukan pengumpulan data pribadi. Ransomware kini tidak hanya mengenkripsi, tetapi mereka juga mengeksfiltrasi data lalu meminta tebusan dalam pemerasan ganda. Menurut Yudhi Kukuh, Founder AwanPintar.id/CTO Prosperita, saat ini ada ransomeware modern. “Ada developer, seorang programer ransomware, lalu pihak yang membiayai operasional dan orang yang menyebarkan,” kata Yudhi di Shangri-La Hotel Jakarta. Kelompok inilah yang bisa disebut segitiga permasalahan dari sebuah ransomware.
Berita Lainnya
Serangan Siber ke RI Naik 6 Kali Lipat pada H1 2024, Mayoritas dari Dalam Negeri
AwanPintar.id, penyedia layanan keamanan siber, menemukan tren serangan siber di Indonesia terus meningkat. Bahkan, kenaikannya mencapai enam kali lipat pada…
AwanPintar.id: Serangan Siber ke Indonesia Banyak Berasal dari Dalam Negeri
Lembaga keamanan siber AwanPintar.id mencatat adanya sejumlah upaya serangan digital ke Indonesia. Mereka melaporkan bahwa mayoritas serangan siber tersebut berasal…
Serangan Siber di Indonesia Melonjak: 16 Serangan Tiap Detik
Jakarta, Detik.com – Keamanan siber Indonesia tengah menghadapi tantangan yang sangat masif. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah serangan digital yang menargetkan…
Prosperita bagikan kiat menjaga ketahanan siber secara mandiri
Jakarta (ANTARA) – Insiden keamanan siber nasional berupa serangan terhadap server Pusat Data Nasional (PDN) menjadi alarm bagi setiap individu…
Ngeri! Tiap Detik Ada 22 Serangan Siber ke Indonesia
Jakarta – Selama paruh pertama 2023, ada 347 jutaan serangan siber yang terjadi di Indonesia, atau sekitar 1,9 juta serangan…
Hati-hati, Serangan Pencurian Kredensial di Indonesia Melonjak
JAKARTA – Temuan AwanPintar.id memperlihatkan pada tahun 2024 lanskap ancaman siber semakin kompleks dengan beragam. Ancaman baru yang terus berkembang,…
